Dalam menghadapi kelangkaan organ untuk transplantasi, penggunaan ginjal dari donasi jantung non-berdenyut (DCD) menjadi semakin penting. Meskipun DCD memperluas kumpulan donor, ginjal ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami kerusakan akibat iskemia (kekurangan oksigen) dibandingkan ginjal dari donor mati otak (DBD). Oleh karena itu, optimalisasi preservasi ginjal adalah kunci untuk meningkatkan hasil transplantasi DCD.
Ginjal DCD mengalami periode iskemia hangat setelah sirkulasi berhenti, sebelum akhirnya didinginkan. Periode ini menyebabkan kerusakan seluler yang signifikan, dikenal sebagai cedera iskemia-reperfusi (IRI), yang dapat mengakibatkan disfungsi graft yang tertunda (DGF) atau bahkan kegagalan graft primer. Untuk memitigasi risiko ini, berbagai strategi preservasi ginjal telah dikembangkan.
Strategi Optimalisasi Preservasi:
- Perfüsi Dingin Statis (SCS): Ini adalah metode standar yang paling sederhana, di mana ginjal dibilas dengan larutan preservasi dingin (sekitar 4°C) dan disimpan dalam es. Larutan ini dirancang untuk mengurangi metabolisme seluler, memperlambat kerusakan, dan mencegah pembengkakan sel. Meskipun efektif untuk DBD, SCS memiliki keterbatasan pada ginjal DCD yang sudah mengalami IRI.
- Perfüsi Mesin Hipotermia (HMP): Teknik ini melibatkan perfusi ginjal secara terus-menerus dengan larutan dingin (sekitar 4°C) menggunakan mesin. HMP dianggap lebih unggul daripada SCS untuk ginjal DCD karena beberapa alasan:
- Pengurangan IRI: Aliran perfusi yang konstan membantu membersihkan produk sampingan metabolik dan memberikan nutrisi penting ke sel.
- Penilaian Graft: HMP memungkinkan pemantauan parameter perfusi, yang dapat memberikan indikasi viabilitas ginjal sebelum transplantasi.
- Penurunan DGF: Studi telah menunjukkan bahwa HMP secara signifikan menurunkan tingkat DGF pada ginjal DCD.
- Perfüsi Regional Normotermia (NRP): Ini adalah pendekatan yang lebih canggih di mana sirkulasi dan oksigenasi ke organ perut donor dipulihkan in situ (di dalam tubuh) pada suhu mendekati normal (normotermia) setelah kematian sirkulasi. NRP bertujuan untuk “merevitalisasi” ginjal dan organ lain sebelum pengangkatan dan preservasi dingin. Keunggulan NRP meliputi:
- Pengurangan Iskemia Hangat: Meminimalkan durasi dan dampak iskemia hangat.
- Penilaian Fungsi In Situ: Memungkinkan ahli bedah untuk menilai fungsi organ dalam kondisi fisiologis.
- Potensi Peningkatan Pemanfaatan Organ: Meningkatkan kualitas ginjal DCD, sehingga lebih banyak ginjal dapat digunakan untuk transplantasi.
